Salah Nurunin Resleting
Tumini seorang wanita
dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.
Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.
Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.
Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.
“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”
Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”
Pemeras Kecil
Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.
“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”
Aku sedang duduk diantara para pemuka desa. Waktu itu sudah malam dan kami semua cukup lelah dengan segala program KKN yang bejibun. Mulai dari pipanisasi sampe membangun jembatan. Desa Soronalan, begitulah nama desa tempat kami KKN, merupakan desa yang sangat tertinggal, terletak di lereng gunung lawu sehingga suhu udara sangat dingin dan menggigit tulang.kebanyakan mahasiswa yang sedang kumpul di rumah Pak Lurah ini berselimut sarung dan memakai jaket tebal untuk mengusir dingin. Hawa dingin ini membuat perut kami yang lapar jadi semakin lapar. Kami duduk bersila di bale-bale yang lumayan luas, membentuk lingkaran..sementara itu hati kami masing-masing membatin " mana kok makanannya belum disajikan.." dasar anak kos sangat oportunis mencari makanan gratis, kebawa hingga ke lokasi KKN. Sementara itu Pak Lurah, yang notabene merupakan penduduk asli desa soronalan, berpenampilan sangat dendy..Mungkin mau nggaya di depan para mahasiswa , biar tidak terlihat udik kali.
Memang Pak lurah yang satu ini walaupun sudah tua tapi suka memakai bahasa-bahasa sok intelek..walaupun seringkali salah maksud dan arti..Seperti contohnya ketika akhirnya Makanan berupa singkong goreng dan kopi panas disajikan. Kami masih Jain jaga imej belum mendahului mencomot singkong karena ngerasa gak enak alias sungkan sebelum tuan rumah mempersulahkan. Melihat gelagat ini Pak Lurah kontan nyeletuk
"mari, mas-mas, mbak-mbak...KONSUMEN nya di makan " kata beliau sambil ternsenyum lebar.. Kami cuma bengong mendengar pilihan kata beliau yang aneh. Mungkin karena kami cuma diam, Pak Lurah mempersilahkan lagi,
"tidak usah sungkan-sungkan..santai...REFLEKS saja, anggap rumah sendiri.." Lagi-lagi kami bengong sambil menahan senyum dalam hati. Memang Pak Lurah satu ini agak error perbendaraan katanya. Pernah Juga waktu menyambut kami pertama kali datang, di balai desa, waktu itu beliau memberi sambutan. Begitu menghadap mikropon beliau memberikan salam pembuka yang sangat religius..
"ASSALAMUALAIKUM NGGIH...!!! " dan spontan kami bingung mau menjawab waalaikum salam atau menjawab " NGGIIIHH...!!! :)
Kami juga suka membuat tebak-tabakan yang menyindir sang Kepala Desa, misalnya " siapa artis termuda yang menjadi caleg, tapi dalam lingkup desa ?" Jawabannya :" Cinta Lurah "
(BERSAMBUNG)
0 komentar